Kamis, 15 Mei 2008

Terima Kasih Widyaiswara

Galang dukungan buat para widyaiswara STAN, kira-kira begitulah yang tertulis pada poster di tembok gerbang Kalimongso, kampus STAN. Koq bisa? Bukannya yang biasa minta dukungan itu adalah mahasiswa^^. Setelah bertanya kepada adik kelas, baru aku peroleh jawaban yang pasti. Ternyata ada peraturan yang mengenai kedudukan widyaiswara yang mengajar di STAN. Mulai sekarang widyaiswara tidak boleh lagi mengajar di kampus STAN tercinta. Alasannya, mungkin saja terkait tugas pokok dan fungsinya yaitu mengajar pegawai.

Mau tahu respon para mahasiswanya, sedih, sebagai alumni pun saya sebenarnya sangat menyayangkan keputusan ini. Widyaiswara itu kurang apa sich, yang kutahu mereka kurang mujur. Kompetensi dan pengalaman mereka sudah menjanjikan untuk dapat mengajar para penjaga keuangan negara. Setahu saya cara mengajar dosen widyaiswara lebih "menyentuh" mahasiswa daripada dosen yang dari luar. Mereka lebih me-"mahasiswa". Satu nilai plus yang rasanya tidak dapat ditandingi oleh dosen dari luar adalah pengetahuan mereka akan kebutuhan ilmu dan keterampilan yang nantinya digunakan pada dunia kerja. Misalnya ketika dosen menerangkan materi kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi, mereka bukan hanya menyampaikan materi sesuai silabus saja, melainkan juga mereka akan memberikan arahan bagian mana saja yang hendaknya diketahui para mahasiswa STAN untuk menunjang bidang pekerjaannya nantinya, yaitu, ilmu ekonomi makro yang erat kaitannya dengan APBN. Sedangkan APBN sendiri merupakan salah satu sarana dalam mengelola keuangan negara.

Tampaknya, meski bagaimanapun. STAN akan tetap butuh Widyaiswara. Coba kita pikir, Spesialisasi Kebendaharaan Negara memiliki mata kuliah keahlian Pengelolaan Kas. Pada saat tahun anggaran 2006, dosen yang berkompeten dalam hal Pengelolaan Kas hanya dua orang yaitu Bapak Drs. Sunarno dan Bapak Agung Yuniarto,SE. Mereka semua adalah widyaiswara utama BPPK, dan hanya mereka yang sanggup mengajar mata kuliah tersebut. Beberapa faktornya adalah banyaknya para ahli pengelolaan kas yang telah meninggal dunia dan berubahnya sistem pengelolaan kas menjadi Treasury Single Account (TSA).

Ada cerita menarik yang dibawakan adik mahasiswa STAN. Ada dosen widyaiswara (ibu-ibu) yang "ngeyel" atau "kekeuh" tidak mau meninggalkan STAN. Beliau juga pernah menyatakan bersedia apabila nantinya hanya mendapat 60% TKPKN sebagai konsekuensinya. Bagaimanapun juga, beliau tetap tidak diperbolehkan mengajar di STAN. Meski demikian, dengan tulisan ini saya ucapakan terimakasih banyak kepada para widyaiswara, atas sharing ilmu, nasehat, motivasi, dan lain sebagainya.

Tulisan ini untuk:
-Pak Agung Yuniarto
-Bu Farida Aryani
-Pak Drs. Suprijatno
-Pak Endang Wildan
-Bu Octa^^
-Pak Muhtaromin
-Pak Drs. Sunarno
-Pak Hasan Ashari
-Pak M.Zahari Hasan
-Pak Dung Tji
-Pak Djang Tjik
-Pak Ihsan Pribadi
-Pak Mulyadi
-Bu Sumini
-Pak Syarwan
-Bu Erni
-Pak Abdussalam
-Pak Haris Premadi
-Pak Hery Waluyo
-Pak Murry Sutarsa
-Pak Hery Triatmoko
dan semua dosen yang pernah mengajar saya.....to be better future, be better nation, be better world, amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar